Memiliki nilai tinggi bukanlah satu-satunya jalan kebahagiaan bagi pelajar.

nilai-rajamath

Memiliki nilai tinggi adalah impian dari setiap anak, guru dan orang tua tetapi bukan berarti kita harus menghalalkan segala cara agar anak kita memiliki nilai tinggi. Memiliki nilai tinggi atau Indeks prestasi (IP) merupakan impian setiap peserta didik baik dari usia dini sampai mahasisiwa. Banyak orang tua yang mengeleskan anak-anknya agar mendapat nilai tertinggi bahkan sampai memforsir anaknya. Tidak hanya itu dalam keadaan Indonesia beberapa tahun lalu Nilai UN juga menjadi tolok ukur keberhasilan siswa. Tidak salah tetapi hanya kadarnya yang belum tepat.  pepatah mengatakn “Senar Gitar jika dikencangkan nyaring bunyinya tetapi semakin dikencangkan akan putus, jika di kendorkan suaranya juga akan fals dan tak keluar suara”.Kembali ke Nilai Tinggi Meskipun nilai tinggi impian banyak orang tetapi ada bebarapa orang yang tidak bahagia mendapatkan nilai tinggi salah satunya adalah Erica Goldson. Ia adalah lulusan terbaik di Coxsackie-Athens High School di New York. Berikut adalah cuplikan pidatonya ketika ia di wisuda
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

apabila ingin menonton vidionya ada di http://www.youtube.com/watch?v=9M4tdMsg3ts&feature=player_embedded#!

Sebagai seorang Guru atau Orang tua kita harusnya bahagia dan menangis mendengar apa yang dituturkan Erica.

Pendidik dan orang tua harusnya tidak menjadikan nilai tinggi sebagai hal utama tetapi juga tidak menyepelekannya. Memperhatikan kebutuhan mereka dan mempunyai takaran yang pas adalah hal yang tepat untuk mereka.

Sebagai pelajar kita seharusnya tahu bagaimana dan dimana takaran/ letak kita sekarang. Jadilah bersemangat dengan apa yang anda lakukan untuk hari ini. Dan jangan terlarut-larut menyesal terhadap apa yang lakukan kemarin, berusahalah hari ini juga karena anda hidup di masa ini bukan di masa depan atau masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WordPress spam blocked by CleanTalk.