Jangan Jadi Budak Kitab Suci

ktabsucirajamath

Dahulu kala hiduplah seorang guru yang mendirikan aliran agama tertentu. Semua yang ada di desa itu percaya Guru tersebut adalah orang yang terpelajar dan maha tahu. Ia memiliki pengikut yang luar biasa banyaknyaa bahkan sampai ribuan. Guru tersebut memiliki pengikut yang mencatat segala petunjuknya dalam sebuah buku. dalam beberapa tahun buku itu menjadi banyak dan memuat semua petunjuk gurunya hingga akhirnya dianggap sebagai kitab suci pedoman bagi umatnya. Para umat tidak diperkenankan atau bertindak tanpa merujuk terlebih dahulu kepada kitab suci tersebut. Apa pun yang merekan lakukan, katakan dan kemanapun mereka pergi pengikutnya selalu mencari petunjuk dan kembali berdasarkan apa yang ditulis di kitab tersebut. Suatu hari ketika sedang melintasi sebuah jembatan kayu gurunya tersebut jatuh ke dalam sungai. Para pengikutnya ada di sana, tapi tak ada satupun yang tahu harus berbuat apa. Jadi akhirnya membuka dan mencari petunjuk dan membuka kitab suci. Halaman demi halaman di buka satu-persatu tetapi sampai halaman tengah masih belum ada yang menemukanya.

Sang Guru Meminta pertolongan. ” Tolong-tolong” jerit sang Guru.

“aku tak bisa berenang”.

“Tunggu Sebentar Guru, Jangan terburu-buru tenggelam dulu”demikian pengikutnya memohon kepada gurunya.

“kami masih mencari cara untuk menolong guru dalam kitab suci, soalnya belum ketemu petunjuk dalam kitab suci untuk menolong guru yang mau tenggelam”.

Hampir 1 jam pengikutnya membolak-balik buku kitab suci itu sampai halaman terakhir dan akhirnya tak ketemu.

mereka melihat gurunya sudah tak berteriak dan akhirnya gurunya lenyap.

apa yang dapat dipetik dari kisah di atas?

Kita harus menggunakan pendekatan yang bijaksana dan tidak seperti budak-budak kitab suci. Memang tidak ada larangan untuk meyakini gagasan usang dan konservatif tetapi paling tidak kita gunakan akal sehat kita untuk menghadapi kehidupan.

 

Roti Gosong Untuk Ayah

Roti Gosong Untuk Ayah

“Roti Gosong untuk Ayah”

Ketika saya masih kecil, Ibu suka membuat sarapan dan makan malam.
Suatu malam, setelah ibu bekerja keras sepanjang hari, ibu menghidangkan sebuah piring berisi telur, saus dan roti panggang yang gosong di depan meja ayah.
Saat itu saya menunggu apa reaksi ayah.
Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.
Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya.

Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu.
Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan, “Sayang, jangan khawatir, aku suka roti panggang yang gosong”.

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ucapan selamat tidur pada ayah. Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong?
Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, “nak, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah. Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun”.
“Tahu kah kamu nak apa yang menyakiti hati seseorang?
*”KATA KATA KASAR”.*

Lalu ayah melanjutkan, “kamu tahu, hidup itu penuh dengan hal-hal dan orang-orang yang tidak sempurna. Ayah juga bukan orang yang terbaik dalam segala hal. Yang ayah pelajari adalah menerima kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan perbedaan. Ini adalah kunci terpenting untuk mewujudkan hubungan yang sehat dan harmonis.
Hidup itu terlalu pendek untuk diisi dengan penyesalan dan kebencian.
Cintai mereka yang memperlakukanmu dengan baik dan sayangi yang lainnya…”.

Sahabat dan saudaraku….,

Yang indah hanya sementara.

Yang abadi adalah kenangan.

Yang ikhlas hanya dari hati.

Yang tulus hanya dari sanubari.

Tidak mudah mencari yang hilang.

Tidak mudah mengejar impian.

Namun yang lebih susah mempertahankan yang sudah ada.
Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga.

Ingatlah pada pepatah,
“Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini”.

Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif….

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yang luar biasa, namun…
Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi,
Sehelai benang pun tak bisa dimiliki.
Apalagi yang mau diperebutkan!
Apalagi yang mau disombongkan!

Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan jiwa ( tahu diri ).

Jangan terlalu perhitungan.

Jangan hanya mau menang sεndiri.

Jangan suka sakiti sesama.

Belajarlah, tiada hari tanpa kasih sayang.

Belajarlah, selalu berlapang dada dan mengalah.

Belajarlah, lepaskan beban hidup dengan ceria ( perubahan diri ).

Tak ada yang tak bisa diikhlaskan….

Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan…

Tak ada dendam yang tak bisa terhapus… ( jiwa besar ).

Sahabat dan saudaraku….
Setiap detik hidup ini adalah Penumpukan perbuatan baik ( kebajikan ).
Tak ada satupun hal yg jelek bila kita berpikiran yg baik dan benar ( muncul Kesadaran ).
Tapi sudahkah kita bersyukur?

Tetap semangat-tetap sabar-tetap tersenyum walaupun penderitaan masih ada. itu adalah sarana karunia kebajikan yang akan menyempurnakan diri menuju kedewasaan dan peningkatan kualitas jiwa yang baik sekali dalam hidup kita untuk akan datang.