BASMI HOAX DENGAN “TIMUN MAS”

TEMA : ANTI HOAX
JUDUL ARTIKEL : BASMI HOAX DENGAN “TIMUN MAS”
Oleh Eko Budi Pranyoto, S.Pd

Pepatah bijak mengatakan “Jagalah pikiranmu, karena ia akan menjadi kata-katamu. Jagalah kata-katamu karena ia akan menjadi tindakanmu. Jagalah tindakanmu, karena ia akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu. Jagalah karaktermu, karena ia akan menentukan nasibmu”. Begitulah kata-kata indah yang memiliki penuh makna apabila dijalankan setiap insan manusia. Berbicara tentang hoax (dibaca hoks) tidak bisa lepas dari kata-kata, sudah menjadi rahasia umum khususnya bagi kalangan yang sering berselancar di dunia maya. Hoax atau warta bohong merupakan berita yang sudah bergeser kebenarannya. Warta bohong ini kemudian dikolaborasi dengan gambar dan pemikiran oleh oknum sehingga muncul tujuan tertentu untuk menyebarkannya. Fenomena warta bohong yang tersebar tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga negara-negara maju di dunia. Negara-negara Uni Eropa juga terserang wabah ini. Beberapa waktu yang lalu Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo mengatakan bahwa dalam pertemuan Dewan Pers seluruh Eropa di Hungaria, mereka juga mengeluhkan hal yang sama mengenai persebaran informasi-informasi palsu. (Kamis, 27/10/2017)
Motif dalam penyebaran hoax bernekaragam, di antaranya adalah uang, ketenaran, kebencian, dan ada yang hanya kesenangan semata. Beberapa bulan yang lalu sebuah kelompok penyebar ujaran kebencian bernuansa SARA yang ditangkap Kepolisian Indonesia mengaku dibayar puluhan juta untuk hal tersebut. Mereka tidak peduli konflik sosial yang akan ditimbulkan setelah warta bohong tersebut diunggah yang terpenting hanya materi.
Para penjahat dunia maya atau sering disebut cybercrime memang tidak peduli siapa yang diserang dan bagaimana dampak yang diakibat oleh persebaran berita palsu tersebut. Mereka hanya memikirkan untuk materi, kebahagiaan egonya, dan kepuasan masing-masing. Dunia politik yang memanas beberapa waktu yang lalu juga akibat ditunggangi dengan kabar hoax oleh ulah mereka. Panggung entertainment juga tak luput dari mereka. Kabar tak sedap yang sering menimpa artis-artis yaitu dikabarkan meninggal padahal mereka dalam keadaan baik-baik saja. Para cybercrime juga menyerang tokoh-tokoh pemuka agama lewat medsos. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, jika terus dibiarkan akan terjadi konflik besar baik sosial, politik dan mampu menimbulkan peperangan sehingga terjadi perpecahan.
ANTI HOAX SANG PENDIDIK
Berbagai kalangan telah peduli dan bekerjasama dalam upaya memberantas berita fitnah dan hoax. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Komisaris Besar Rikwanto juga mengingatkan berkali-kali bahwa bagi anda yang suka mengirimkan kabar bohong (hoax), atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Terbentuknya Badan Siber Nasional (BSN) juga salah satunya memiliki tugas memberantas berita penuh provokatif yang menyudutkan pihak-pihak tertentu, bohong atau hoax. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia sekarang ini sangat disibukkan dengan pemberantasan berita-berita yang hoax, dipelintir dan direkayasa di jejaring sosial, web, dan aplikasi playstore. Munculnya komunitas anti hoax di dunia nyata dan media sosial juga dimaksudkan untuk mengatasi persebaran berita bohong. Beberapa fanpage Facebook dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes dan lain-lain. Gerakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) juga mulai berdiri di berbagai kota mulai Surabaya, Solo, Yogya, Bandung, Semarang hingga Boyolali.
Semangat masyarakat Indonesia tersebut merupakan luapan cinta tanah air sebagai wujud semangat Pancasila NKRI harga mati perlu dukungan dari berbagai elemen kehidupan. Sebagai masyarakat awam pegiat dunia maya, semua tidak boleh hanya berpangku tangan dan hanya membiarkan persebaran informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kelompok –kelompok yang sudah terbentuk untuk memerangi hoax hanya akan menjadi tontonan saja apabila masyarakat tidak peduli dan sadar ikut serta menjadi motor penggerak pemberantas hoax. Praktiksi pendidikan harus sering mengingatkan masyarakat dari bawah sampai atas dalam mewujudkan generasi emas di masa depan agar tidak terkontaminasi berita hoax. Praktisi pendidikan lebih dominan mempengaruhi masyarakat karena sering bersentuhan langsung dengan masyarakat khususnya generasi muda yang masih belajar di bangku sekolah. Jika anda sebagai salah satu guru atau siswa di sekolah budaya literasi untuk meningkatkan kejujuran sangat disarankan agar diterapkan. Ini adalah salah satu langkah awal untuk menanggulangi berita hoax.
Sudah banyak cara yang dipaparkan di media dan disampaikan oleh organisasi tertentu untuk menangkal dan menanggulangi berita hoax. Berikut cara yang lumayan ampuh untuk menangkal dan memberantas hoax yaitu dengan “ TIMUN MAS”. “ TIMUN MAS” adalah sebuah akronim dengan penjelasan agar mudah diingat masyarakat.
“T” memiliki makna “Telusuri” pertama telusuri dari mana sumber berita tersebut berasal. Apabila berasal dari website atau sebuah link, perhatikan alamat URL situs tersebut. Jika alamat URL itu terverifikasi sebagai institusi pers yang resmi maka tinggal membaca bandingkan dengan alamat-alamat web yang resmi lainnya apakah kontennya sama atau menyimpang. Apabila menggunakan alamat domain blog yang gratisan misalnya maka informasi tersebut perlu diragukan. Perlu diperhatikan sumber berawal dalam institusi resmi atau tidak. Misalnya KPK, KEMENDIKBUD, POLRI atau dari tokoh-tokoh politik atau dari ormas-ormas tertentu yang berkepentingan sumber warta tersebut berasal. Tidak hanya itu biasanya berita hoax yang meresahkan masyarakat ini juga didukung dengan gambar. Untuk kebenaran gambar dan kesesuaian dapat menggunakan Google Images, sehingga dalam pencarian akan tampil gambar serupa yang bisa di-cross chek kebenarannya.
“I” memiliki makna “Identifikasi” dalam konteks ini suatu informasi perlu dianalisis bagaimana struktur judul informasi dan kabar yang tertera. Jika judul suatu informasi bersifat provokatif, persuasif dan menyinggung secara tajam pihak tertentu maka perlu dicermati, diwaspadai dan dibandingkan dengan pemberitaan media-media yang telah terverifikasi. Suatu berita palsu dalam penyampaiannya baik secara tersurat atau tersirat biasanya memiliki muatan dan tendensi tertentu. Tidak hanya itu terkadang ada informasi-informasi yang disebarkan tanpa data, tidak ada penelitiannya dan belum teruji dengan jelas.
“M” adalah “Mengklarifikasi”. Ketika ada kabar yang tersebar yang paling tahu suatu kejadian adalah orang yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut. Ada baiknya menanyakan kebenaran kepada orang yang bersangkutan atau orang yang berada paling dekat dengan peristiwa. Jika tidak ada bertanyalah kepada orang yang mungkin lebih tahu. Sebab setiap informasi yang didapat akan timbul persepsi dalam diri seseorang dan pandangan itu akan terbatas pada pengetahuan orang tersebut.
“U” merupakan kepanjangan dari “Ukurlah” setelah proses telusuri, identifikasi, dan mengklarifikasi langkah terbaik adalah mengukur berita tersebut. Caranya mengukur cukup mudah yaitu dengan berandai-andai, ketika anda ikut menyebarkan berita itu dan berita itu tersebar luas, tanyakan pada diri anda berapa banyak pihak yang dirugikan dan berapa banyak elemen yang diuntungkan? Jika informasi itu sampai ke pembaca apa dampak selanjutnya? Apakah informasi yang diberikan manfaat atau tidak? Apakah informasi menyesatkan orang atau tidak? Hal itu yang perlu diresapi bagi pembaca dan para pegiat jejaring sosial media.
“N” berakar dari istilah asing “No Forward ” jika setelah berpikir logis dan merasakan informasi tersebut meragukan maka tidak perlu ikut andil mendistribusikan atau meneruskannya. Menurut UU IT secara sengaja atau tidak jika seseorang ikut serta dalam persebaran hoax tetap akan terkena pidana atau denda.
“M” dibagian kedua memiliki kepanjangan ”Melaporkan”. Pada saat menemukan berita yang mengandung fitnah, provokasi dan menyebar berita bohong hal terbaik yaitu melaporkan kepada pihak yang berwenang atau langsung mengirim aduan ke Kominfo. Pelapor dapat melakukan dengan cara men-screen capture disertai URL link, kemudian mengirimkan data ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Di medsos facebook dengan cara report post , pada twitter report tweet, pada gogle dengan memberi feedback.Tujuannya agar tidak semakin banyak pihak yang dirugikan.
“A” yaitu “Ajaklah” dalam kata ini sudah jelas bahwa masyarakat Indonesia harus diajak bersinergi bersama dan berkontribusi langsung memberantas hoax. Jika belum mampu mengajak masyarakat ajaklah keluarga, jika tak mampu mengajak keluarga mulailah dari diri sendiri dengan berkata-kata jujur dan benar.
“S” huruf yang terakhir “Sosial” . Langkah terakhir adalah bergabunglah dengan media sosial dalam pergerakan anti hoax dan sosialisasikan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemberantasan warta bohong tersebut kepada masyarakat agar tidak termakan bahaya hoax.
“TIMUN MAS” ini secara struktural sudah baik pernah suatu ketika teman saya mendapatkan pesan dari WhatsAp (WA) bahwa ia mendapatkan hadiah 10 juta karena melakukan isi ulang pulsa dari suatu operator. Sangat jarang pesan dari WA mendapatkan hadiah, sebab biasanya melalui sms. Dalam pesan itu terdapat sebuah situs yang di dalamnya terdapat nama lengkap teman saya, alamat tinggal dan nomor hand phone. Dilihat dari nama situsnya dalam penelusuran sudah meragukan. Saya sudah cek URL tidak meyakinkan dan saya peringatkan teman tersebut untuk tidak percaya. Tetapi tiba-tiba ia mendapat telfon dari nomor yang memberi pesan dari WA. Pertama ia diminta penelfon untuk mengecek jumlah pulsa bahwa pulsanya bertambah, kemudian setelah dicek benar pulsanya bertambah sebesar 500.000. Saya tetap bilang kepada teman saya untuk tidak percaya tapi tetap saja ngotot. Setelah itu ia diminta transaksi memasukkan kartu ATM dan input beberapa kode ke ATM (bukan transfer). Setelah itu uang yang ada di kartu ATM teman saya tiba-tiba jadi nol rupiah dan pulsa 500.000 juga ikut lenyap. Apabila mendapat pesan hoax yang serupa agar lebih berhati-hati jangan mudah percaya.
Selain “TIMUN MAS” di atas kesadaran individu di lingkungan keluarga dan sekolah harus sering ditekankan tentang kegiatan literasi yang bekaitan kejujuran atau dengan berkata-kata benar. Di sekolah kami terdapat poster syarat kata-kata benar yang berasal kitab Pali kuno. Dan sering dibaca ketika kegiatan budaya literasi. Isinya di antaranya kata-kata yang benar dan baik harus memenuhi 5 kriteria yaitu :1)kata-kata itu benar sesuai realitas; 2)kata-kata itu disebarkan ditempat yang tepat; 3)kata-kata itu disebarkan tepat waktunya: 4)kata-kata yang disebarkan bermanfaat;5)kata-kata itu disampaikan dengan lembut dan cinta kasih.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyebar warta bohong (hoax) merupakan kejahatan besar, harus diperangi dan diberantas. Dalam pemberantasan hal tersebut perlunya dukungan dari berbagai elemen dan lapisan masyarakat yang bersinergi secara menyeluruh. Kesadaran setiap individu sangat diperlukan terutama generasi muda yang sering di jejaring sosial dan memegang peran penting dalam generasi emas 2045. “TIMUN MAS” adalah salah satu cara yang sangat penting sebagai konsumsi spiritual dalam kesadaran agar tidak ikut dalam membuat hoax, menebar hoax, dan mampu memberantas hoax. Dan selalu ingat kata-katamu menentukan nasibmu, mari menjadi pembaca yang cerdas dan bijak.#antihoax #marimas #pgrijateng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WordPress spam blocked by CleanTalk.